Berita Antariksa Terbaru: Kabar Langit
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Kabar Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Langit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

USD270 Juta untuk Pesawat Luar Angkasa

USD270 Juta untuk Pesawat Luar Angkasa


NASA menggelontorkan dana hampir USD270 juta kepada empat perusahaan, termasuk Boeing dan SpaceX, untuk membantu mereka membuat sebuah pesawat luar angkasa baru.

Perusahaan penerbangan raksasa Boeing mendapat kontrak yang paling besar, yakni USD92,3 juta, sebagai bagian dari babak kedua program pengembangan kru penerbangan komersial NASA atau CCDev2. Demikian seperti yang dikutip dari AFP, Selasa (19/4/2011).


Sierra Nevada Corporation, sebuah perusahaan asal Colorado yang kini sedang mengerjakan pesawat Dream Chaser, mendapat suntikan dana kedua terbesar sebanyak USD80 juta.

SpaceX, perusahaan asal California yang tahun lalu sukses menerbangan sebuah kapsul angkasa ke orbit mendapat dana sebesar USD75 juta. Perusahaan terakhir, Blue Origin of Kent asal Washington mendapat dana sebesar USD22 juta.

"Kesepakatan ini sangat penting bagi NASA, agar perusahaan-perusahaan tersebut bisa membangun pesawat luar angkasa untuk orbit rendah. Jadi kami bisa konsentrasi untuk eksplorasi luar angkasa yang lebih dalam," ujar Charles Bolden, administrator NASA.

Sebelumnya NASA menggelontorkan dana sebesar USD50 juta untuk babak pertama kontrak pengembangan kru penerbangan komersial, CCDev1, yang dimulai pada tahun 2009.

Saat ini NASA ingin segera mengganti pesawat luar angkasa mereka, karena Endeavour akan berakhir misinya pada bulan April. Lalu Atlantis juga akan berakhir misinya pada bulan Juni.

Minggu, 26 Desember 2010

R136a1, Bintang Terbesar Sejagat Raya

R136a1, Bintang Terbesar Sejagat Raya

Berukuran 265 kali lebih besar, sinarnya 10 juta kali lebih terang dibanding Matahari
Sekelompok astronom asal Inggris berhasil mendeteksi sebuah bintang yang paling besar yang pernah dilihat manusia. Bintang raksasa itu memiliki ukuran 265 kali lipat lebih besar dibanding Matahari kita.

Saking besarnya, bintang itu dapat mengubah teori tentang bagaimana proses lahirnya bintang. Bahkan diperkirakan, saat lahir ia mencapai ukuran 320 kali Matahari.

Sebelum ini, menggunakan model yang digunakan oleh peneliti, diketahui bahwa ukuran maksimal bintang adalah 150 kali lipat dibanding Matahari kita. Apapun yang berukuran di atas itu terlalu sulit untuk terbentuk menjadi bintang.

Namun, dikutip dari BBC, 25 Desember 2010, Paul Crowther, astronom asal University of Sheffield, Inggris, setalah mengamati gambar-gambar yang ditangkap oleh Very Large Telescope di Chile dan teleskop ruang angkasa Hubble, menemukan bintang yang melampaui ukuran maksimal itu.


Selain jauh lebih besar dibanding Matahari, R136a1, bintang yang berada di gugus dengan jarak 165 ribu tahun cahaya dari Bumi itu juga sama terangnya dengan 10 juta buah Matahari kita.

“Sebagai gambaran, perbandingan cahaya antara bintang ini dengan Matahari di tata surya kita adalah seperti membandingkan sinar Matahari dengan Bulan purnama,” kata Crowther.

Diperkirakan, suhu di permukaan bintang itu mencapai sekitar 50 ribu derajat Celsius, hampir delapan kali lebih panas dibanding Maharari.

Crowther menyebutkan, hal yang lebih penting dari penemuan bintang raksasa itu adalah memberikan keyakinan pada manusia bahwa kemungkinan besar masih ada bintang-bintang sangat raksasa seperti R136a1 di jagat raya.
Kutub Utara dan Selatan Bumi Bergeser

Kutub Utara dan Selatan Bumi Bergeser


Setiap kurang lebih 200 ribu tahun sekali, kedua kutub planet Bumi, utara dan selatan saling bergeser. 

Umumnya, pergeseran kedua kutub itu membutuhkan waktu ribuan tahun.

Medan magnet utara-selatan planet Bumi bergeser satu kali setiap sekitar 200 ribu tahun.

Scott Bogue, geolog dari Occidental College dan Jonathan Glen, peneliti dari US Geological Survey (USGS) yang mengamati lava di kawasan Nevada yang telah berusia 15 juta tahun.

Hasilnya, dari penelitian, mereka menemukan bahwa kutub planet Bumi pernah bergeser beberapa kali lipat lebih cepat dibanding kecepatan normal. Setidaknya satu kali.

“Saat lava mendingin, ia menyimpan catatan medan magnet Bumi,” kata Bogue, seperti dikutip dari Discovermagazine, 23 Desember 2010. “Setelah mengamati lava yang mengalami pendinginan selama 2 tahun berturut-turut, diketahui bahwa lava di kawasan itu bergeser 53 derajat dari timur ke arah utara dengan kecepatan 1 derajat setiap minggu,” ucapnya.


Awalnya, keduanya mengira ada kesalahan dalam penelitian mereka. Namun pengujian lebih mendetail mengonfirmasikan pola pergeseran tersebut. Bukti lain terjadinya pergeseran kutub terekam oleh lava yang ada di Oregon, yang telah diteliti di tahun 1985 lalu.

Catatan geologi dari medan magnet Bumi juga umumnya mengindikasikan bahwa medan magnet utara-selatan itu bergeser satu kali setiap sekitar 200 ribu tahun. Pergeseran terjadi secara lambat dan membutuhkan 4 ribu tahun untuk selesai.

Meski para ilmuwan belum memastikan apa yang membuat bergesernya kedua kutub, besi cair panas yang mampu menghantarkan listrik yang mengalir di perut bumi diperkirakan menjadi penyebabnya. Apalagi zat ini jugalah yang menimbulkan medan magnet yang ada di kutub Bumi.

Temuan ini diperkirakan akan memicu gelombang perdebatan baru. Sejumlah geolog berpendapat bahwa saat ini medan magnet juga sedang menjalani pergeseran.

Seperti dilaporkan Science News, medan magnet planet Bumi semakin melemah selama abad terakhir. Meski demikian, pergeseran medan magnet tersebut tidak akan terlalu banyak mempengaruhi kehidupan manusia.

Jumat, 24 Desember 2010

NASA: Ini Foto Keajaiban Tsunami Aceh

NASA: Ini Foto Keajaiban Tsunami Aceh


Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia. Dampak gempa itu begitu kuat sampai 1.200 kilometer dari pusat gempa, hingga mencapai Alaska.

Gempa dahsyat itu memicu tsunami mematikan. Tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia hingga ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Situs Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengabadikan foto Aceh, sebelum dan sesudah diterjang gelombang gergasi, tsunami.

Salah satu foto menggambarkan kondisi Kota Lhoknga, di pantai barat Sumatera dekat Ibukota Aceh, Banda Aceh. Kota itu rata dengan tanah.


Namun, sebuah keajaiban tampak. Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat dan berdiri kokoh di tengah segala kehancuran.
NASA: Aceh pasca tsunami1
NASA: Aceh sebelum tsunami1
Foto selanjutnya direkam menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra milik NASA.

Foto ini menggambarkan kondisi sebelum tsunami pada pada 17 Desember 2004, dan tiga hari paska bencana, 29 Desember 2004 (atas).

Awalnya, terlihat vegetasi hijau di sepanjang pantai barat, juga bentangan pasir putih. Setelah gempa dan tsunami, wilayah pantai tampak berwarna coklat keunguan.
NASA: Aceh pasca tsunami3
NASA: Aceh sebelum tsunami3
Foto lain diambil instrumen Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM +) menunjukkan area kecil di sepanjang pantai Sumatera di Provinsi Aceh, di mana tsunami menghancurkan jalan darat.

Di daerah ini, gelombang raksasa menyebabkan kerusakan total di area 1,5 kilometer persegi dari bibir pantai. (art)
NASA: Aceh pasca tsunami2
NASA: Aceh sebelum tsunami2
• VIVAnews
Selandia Baru Rilis Data Penampakan UFO

Selandia Baru Rilis Data Penampakan UFO

Militer Selandia Baru merilis ratusan laporan yang diklaim menunjukkan penampakan UFO (unidentified flying object) dan pertempuran dengan alien.

Laporan-laporan tersebut, dari tahun 1954 hingga 2009, dirilis atas nama Undang-Undang Kebebasan Informasi setelah Pasukan Pertahanan Selandia Baru menghapus nama-nama dan benda yang tidak teridentifikasi lainnya dari laporan.

Dokumen dengan 2.000 halaman tersebut menceritakan publik, personel militer dan sejumlah pilot terlibat dalam pertempuran jarak dekat dengan alien, di mana sinar-sinar bertebaran di angkasa. Beberapa akun menunjukkan gambar piring terbang, deskripsi alien yang menggunakan topeng firaun serta beberapa contoh tulisan yang diduga berasal dari luar angkasa.

Sesaat sebelum merilis data-data itu, pimpinan skuadron Angkatan Udara Selandia Baru Kavae Tamariki mengatakan Pasukan Pertahanan tidak pernah melakukan penyelidikan apapun terhadap penampakan UFO tersebut karena keterbatasan sumber daya. Oleh sebab itu, mereka tidak akan memberikan komentar apapun mengenai isi dari dokumen-dokumen tersebut.


"Kami baru sampai pada tahap mengoleksi informasi. Kami belum menyelidiki atau membuat laporan apapun terkait kumpulan dokumen itu," ujarnya seperti dilansir AFP pada Kamis (23/12/2010).

Salah satu data yang paling menarik perhatian adalah dua penampakan sinar aneh di Pulau Selatan, bagian dari kota Kaikoura pada 1978. Salah satu penampakan tersebut tertangkap oleh seorang kru televisi yang ada di sekitar tempat kejadian.

Penampakan tersebut menjadi berita utama media internasional pada waktu itu, namun laporan Angkatan Udara saat ini menyebutkan sinar tersebut kemungkinan hanyalah fenomena alam, seperti lampu dari kapal yang dipantulkan oleh awan atau penampakan Venus yang kadang memang terjadi.

Kamis, 23 Desember 2010

Dan, Lahirlah Bintang-bintang Baru

Oleh Amien Nugroho

BAGAIMANA lubang hitam yang eksotis terbentuk? Dalam teori evolusi bintang dapat diketahui, waktu yang diperlukan kabut antarbintang yang mengelompok dan mengerut serta didominasi hidrogen hingga menjadi “bintang baru” yang disebut bintang deret utama, bergantung pada massa calon bintang itu. Massa makin besar kian singkat pula waktu untuk menjadi bintang deret utama. Energi yang dimiliki protobintang itu semata-mata dari pengerutan gravitasi. Karena pengerutan gravitasi itulah temperatur di pusat bintang meninggi.
Reaksi Fusi Nuklir

Dari mana bintang mendapat energi untuk menghasilkan kalor dan radiasi kali pertama dikedepankan astronom Inggris, Sir Arthur Stanley Eddington. Eddington pernah memimpin ekspedisi gerhana matahari total ke Pulau Principe di lepas pantai Afrika, 29 Mei 1919, untuk membuktikan salah satu ramalan Teori Relativitas Umum tentang pembelokan cahaya bintang di dekat matahari. Namun Hans Bethe-lah yang tahun 1938 mampu menjelaskan reaksi fusi nuklir (penggabungan  dua inti atom ringan untuk membentuk inti atom lebih berat) di pusat bintang, yang dapat menghasilkan energi cukup besar. Pada temperatur puluhan juta Kelvin, inti hidrogen (materi pembentuk bintang) bereaksi membentuk inti helium. Energi yang dibangkitkan fusi nuklir itu membuat tekanan radiasi di dalam bintang mampu menahan pengerutan. Bintang pun berada dalam kesetimbangan hidrostatik dan akan bersinar terang dalam waktu jutaan, bahkan miliaran, tahun ke depan bergantung pada massa awal yang dimiliki.

Makin besar massa awal bintang kian cepat laju pembangkitan energinya dan kian singkat pula waktu untuk menghabiskan bahan bakar nuklirnya. Ketika bahan bakar habis, tak ada lagi yang mampu mengimbangi gravitasi, sehingga bintang pun runtuh kembali. Diameter bintang makin lama kian kecil dan atom-atom kian berdempetan dengan inti. Jika massa bintang yang mengerut lebih kecil dari 1,44 kali  massa matahari dan tekanan elektron terdegenerasi cukup besar dan mampu melawan pengerutan, bintang semacam itu dinamakan bintang kerdil putih karena berukuran kira-kira sebesar bumi tetapi mengandung materi sebanyak matahari. Bintang kerdil putih masih bisa diamati secara optik.


Tahap selanjutnya, tekanan elektron terdegenerasi akan mengerem pengerutan bintang lebih lanjut sehingga bintang kembali dalam keadaan setimbang. Karena tak ada sumber energi di pusat bintang, bintang kerdil putih mendingin dan berubah jadi bintang kerdil gelap yang tak mampu lagi memancarkan radiasi.

Jika massa bintang yang mengerut lebih besar dari 1,44 kali massa matahari dan tekanan elektronnya tak cukup kuat dibandingkan dengan kecenderungan mengerut, pengerutan berjalan terus sampai elektron-elektron bertumbukan dahsyat sehingga menghasilkan neutron yang bermuatan netral. Pada kasus itu, jika gaya nuklir antarpartikel (netron dan neutron lain) cukup besar untuk menahan pengerutan, akhirnya bintang itu dipenuhi neutron dan menjadi stabil. Bintang semacam itu dinamakan bintang neutron yang berdiameter antara 10 dan 15 km.

Pulsar

Volume bintang neutron itu jauh lebih kecil dari bintang kerdil dengan massa melebihi massa bintang kerdil yang menyebabkan massa jenis bintang itu menjadi sangat besar. Berat satu sendok makan materi dari bintang neutron itu bermiliar-miliar ton. Dengan penemuan sumber pancaran gelombang radio yang berdenyut atau berkedip-kedip dengan cepat yang dikenal dengan nama “pulsar” (pulsating radio source) oleh Prof Anthony Hewish dan mahasiswi doktoralnya, Jocelyn Bell, tahun 1967, bisa dikatakan saat itulah kita menyaksikan bintang neutron untuk kali pertama. Sebab, pulsar sesungguhnya sebuah bintang neutron yang berotasi dengan sangat cepat. Bintang neutron itu sangat kompak dan mampat dengan sebagian besar materinya tersusun oleh neutron.

Jika massa bintang yang mengerut itu lebih dari 3,2 kali massa matahari dan tak ada gaya yang dapat menahan pengerutan, baik tekanan elektron maupun gaya nuklir antarneutron neutron, bintang itu akan terus mengerut tanpa penghalang lagi. Jadi gaya gravitasinya bertambah besar. Gaya gravitasi yang biasanya bukan gaya yang serius dibandingkan gaya lain dalam dimensi empat (ruang-waktu), pada proses pengerutan itu berperanan sangat penting yang harus diperhitungkan.

Jika pengerutan tak dapat dihindarkan lagi berkelanjutan sampai volume bintang mendekati nol dan medan gravitasi bertambah terus mendekati “tak hingga”, penyimpangan terhadap konsep dimensi empat menjadi sangat besar, hingga akhirnya mencapai maksimum bila volume sama dengan nol atau dengan kata lain, bintang itu “menghilang” dari ruang angkasa karena keluar dari dimensi ruang-waktu, masuk ke dimensi lain secara gaib. Bintang-bintang yang mengerut atau mengalami keruntuhan gravitasi semacam itu akan membentuk lubang hitam.

Diameter lubang hitam rata-rata 10 km, tetapi mengandung materi sebanyak di matahari. Selain itu, karena bermedan gravitasi sangat kuat, semua materi (termasuk cahaya) tak bisa lepas dari permukaannya. Akibatnya, cahaya yang dipancarkan lubang hitam tak pernah sampai ke bumi.
Semua materi dan cahaya yang lewat di sekitar radius daerah bahaya singularitas Schwarzschild itu juga tersedot dan ditelannya.

Namun 22 Juli 2004, fisikawan terkemuka Stephen Hawking secara mengejutkan membantah teorinya sendiri, yaitu apa pun yang memasuki radius bahaya lubang hitam akan tersedot dan ditelannya. Berdasar teori barunya, sesuatu yang memasuki lubang hitam tidak sirna sepenuhnya tanpa bekas, tetapi masih ada “informasi” yang bisa lepas. Bila teori itu benar, ada kemungkinan suatu saat kelak kita bisa memotret rupa lubang hitam.

Black Hole yang Misterius

Oleh Amien Nugroho
SAMPAI saat ini, lubang hitam (black hole) masih dipandang satu-satunya objek astronomik paling misterius karena tak bisa diamati secara langsung melalui teleskop optik tercanggih sekalipun. Sebab, semua materi, termasuk cahaya, akan tersedot dan tak bisa lepas dari permukaannya.

Lubang hitam diyakini terlahir ketika bintang bermassa besar (10-15 kali massa matahari) menjalani akhir hayat sebagai bintang meledak yang dahsyat (supernova). Lubang hitam hasil kematian sebuah bintang dinamakan lubang hitam bintang (stellar black hole). Pengamatan para astronom dengan teleskop modern dewasa ini mengindikasikan keberadaan lubang hitam maharaksasa bermassa jauh lebih besar dari sebuah bintang. Lubang hitam itu diperkirakan bermassa miliaran massa bintang dan disebut lubang hitam supermasif.

Eksistensi lubang hitam di alam semesta diprediksi matematikawan Jerman, Karl Schwarzshild, tahun 1916. Dia menggunakan Teori Relativitas Umum yang dicetuskan Albert Einstein tahun 1915 untuk menghitung solusi medan gravitasi berupa titik massa. Namun Schwar-zshild tak begitu yakin solusinya itu punya makna fisis atau bisa ditemukan di alam.

Teka-teki solusi Schwarzschild terkuak setelah ditemukan objek pemancar sinar X kuat dari kedalaman antariksa tahun 1960-an. Menurut teori evolusi bintang, sumber radiasi sinar X itu membuktikan keberadaan objek sangat mampat seperti bintang neutron atau lubang hitam.

Istilah lubang hitam kali pertama diperkenalkan John A Wheeler tahun 1967 untuk melukiskan kondisi kelengkungan ruang-waktu di sekitar benda bermassa dengan medan gravitasi sangat kuat. Menurut Teori Relativitas Umum, kehadiran massa akan mendistorsi ruang dan waktu.


Dalam bahasa sederhana, kehadiran massa akan melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya.
Ilustrasi yang acap dipakai memperagakan kelengkungan ruang di sekitar benda bermassa adalah dengan lembaran karet elastis untuk mendeskripsikan ruang tiga dimensi ke ruang dua dimensi. Bila kita menggelindingkan bola pingpong di atas hamparan lembaran karet itu, bola bergerak lurus dengan hanya memberi sedikit tekanan pada lembaran karet.

Sebaliknya, bila kita letakkan bola biliar bermassa lebih besar (masif), lembaran karet melengkung dengan cekungan di pusat yang ditempati bola biliar itu. Makin masif bola kian besar tekanan yang diberikan dan kian dalam pula cekungan pusat yang dihasilkan pada lembaran karet.

Gerak bumi dan planet-planet lain dalam tata surya mengorbit matahari sebagai hasil kerja gaya gravitasi, sebagaimana dibuktikan Isaac Newton tahun 1687 dalam Principia Mathematica. Melalui persamaan matematika yang menjelaskan hubungan antara kelengkungan ruang dan distribusi massa, Einstein ingin memberi gambaran tentang gravitasi yang berbeda dari pendahulunya itu.

Bila sekarang kita menggelindingkan bola yang lebih ringan di sekitar bola yang masif pada lembaran karet, bola yang ringan tak lagi mengikuti lintasan lurus sebagaimana seharusnya, tetapi mengikuti kelengkungan ruang yang terbentuk di sekitar bola yang lebih masif. Cekungan yang dibentuk berhasil “menangkap” benda bergerak lain sehingga mengorbit benda pusat yang lebih masif. Itulah deskripsi yang sama sekali baru tentang penjelasan gerak mengorbit planet-planet di sekitar matahari dalam relativitas umum.

Dalam kasus lain, bila benda bergerak menuju ke pusat cekungan, benda itu akan tertarik ke arah benda pusat. Itu juga memberi penjelasan tentang fenomena jatuhnya meteoroid ke matahari, bumi, atau planet-planet lain.

Jari-jari Schwarzschild

Dengan memakai persamaan matematisnya untuk sembarang benda berbentuk bola sebagai solusi eksak atas persamaan medan Einstein, Schwarzschild menemukan suatu kondisi kritis yang hanya bergantung pada massa benda itu. Bila jari-jari benda (bintang misalnya) mencapai harga tertentu, kelengkungan ruang-waktu jadi sedemikian besar sehingga tak ada satu materi pun dapat lepas dari permukaan objek itu, termasuk cahaya. Jari-jari kritis itu sekarang dikenal sebagai jari-jari Schwarzschild, yang besarnya dapat dihitung dengan rumus 2GM/r kuadrat. G adalah tetapan gravitasi  6.673 X 10-11 -Newton m2/detik kuadrat, C kecepatan cahaya 299.792.4580 m/detik, dan M massa benda. Bintang masif yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna seperti itu, untuk kali pertama disebut lubang hitam.

Untuk menjadi lubang hitam, menurut persamaan Schwarzschild, matahari kita yang berjari-jari sekitar 696.000 km harus dimampatkan hingga berjari-jari 2,5 km. Namun matahari kita tak akan menjadi lubang hitam di kelak kemudian hari. Sebab, massa matahari tak melebihi batas penghamburan materi, yakni 1,44 kali massa matahari kita. Jadi matahari kita tak memenuhi syarat menjadi lubang hitam. Yang paling mungkin, pada suatu saat kelak, matahari kita menjadi bintang katai atau kerdil putih.

Meski persamaan Schwarzschild mampu menjelaskan keberadaan lubang hitam, banyak ilmuwan kala itu, termasuk Einstein, memandang sebelah mata hasil Schwarzschild. Mereka menganggap persamaan Schwarzschild sebagai enigma matematis belaka, tanpa kehadiran makna fisis. Namun belakangan terbukti, keadaan ekstrem yang ditunjukkan persamaan Schwarzschild sekaligus model yang diajukan  dua fisikawan AS, Robert Oppenheimer dan Hartland Snyder, tahun 1939 yang berangkat dari perhitungan Schwarzschild, berhasil ditunjukkan dalam simulasi komputer.

- Amien Nugroho, pengamat teknologi dan astronomi, tinggal di Yogyakarta

Selasa, 21 Desember 2010

Ilmuwan: Ada Laut di Balik Es Pluto

Ilmuwan: Ada Laut di Balik Es Pluto


Pluto, yang dulu dianggap sebagai planet di tata surya kita, diyakini memiliki lautan di bawah permukaan esnya. Pasalnya panas radioaktif memiliki kemungkinan telah memanaskan inti dari Pluto. Demikian menurut sebuah penelitian terbaru.

Meski suhu permukaannya sangat dingin akan tetapi planet kecil tersebut cukup hangat untuk memiliki lautan di bawah permukaannya. Menurut sebuah peragaan yang ditujukan untuk mengukur tingkat panas radioaktif yang bisa memanaskan inti dari Pluto. Demikian dikutip dari National Geographic, Senin (20/12/2010).

"Lautan tersebut diperkirakan seluas 100 sampai 170 kilometer, yang ditutupi oleh lapisan es setebal 200 kilometer," ujar Guilaume Robuchon, ilmuwan dari University of California, Santa Cruz.


Apabila ini benar, berarti Pluto akan bergabung dengan Titan dan Enceladus, planet satelit milik Saturnus yang dipercaya memiliki sumber air.

Meskipun permukaan planet Pluto bersuhu sekira -230 derajat celsius namun air di bawah permukaannya mungkin tidak akan ikut membeku, menurut sebuah peragaan yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut.

"Es adalah materi perekat yang baik," ujar Francis Nimmo dari University of California, yang juga rekan dari Robuchon.

Robuchon menambahkan bahwa model peragaannya menunjukkan bahwa bagian dalam Pluto bisa mengandung air, asalkan inti dari Pluto mengandung setidaknya ratusan bagian per miliar kadar radioaktif potassium. Lalu, batuan di Pluto juga harus bertumpuk di inti yang berbatu, dengan air dan permukaan yang dilapisi oleh es.

Pada 24 Agustus 2006, status Pluto dirubah, dari yang tadinya 'planet' menjadi 'planet kerdil'. Lalu pada 7 September 2006, nama Pluto diganti dengan nomor saja, yakni 134340.

Matahari

[Matahari][recentbylabel2]

Planet

[Planet][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done