Berita Antariksa Terbaru: Bintang
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bintang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2019

Bintang Super Menembakkan Materi pada Bintang Neutron, Ledakan pun Terjadi

Bintang-Super-Menembakkan-Materi-pada-Bintang-Neutron

Gas dari bintang bintang super ditelan ke dalam medan gravitasi sebuah bintang neutron tetangga, superheating gas dan menghasilkan suar yang berlangsung selama 4 jam. XMM-Newton observatorium ruang angkasa IGR menyaksikan peristiwa sistem J18410-0535.

Di bawah ini adalah sebuah video yang menggambarkan bintang-nintang super tertelan medan gravitasi sebuah bintang neutron tetangga...





Senin, 27 Mei 2019

1,2% Bintang di Galaksi Bimasakti Dukung Kehidupan

Bima Sakti

1,2 persen bintang-bintang yang ada dalam galaksi Bima Sakti mampu mendukung kehidupan. Demikian kata para ahli astro biologi baru-baru ini saat meluncurkan sebuah peta baru dari galaksi Bima Sakti.

Cuma 1,2 persen? Eh... jangan salah! 1,2 persen itu dari miliyaran bintang yang ada di Bima Sakti. Perlu diketahui kalau galaksi Bima Sakti memiliki miliaran bintang. Maka angka 1,2 persen berarti sama saja dengan beberapa juta bintang. Lebih lanjut dikatakan bahwa planet yang berada di dalam bintang-bintang yang ada dala galaksi Bima Sakti mampu mendukung kehidupan.

Para ilmuwan memperkirakan kalau temperatur yang terdapat dalam bintang-bintang tersebut cukup cocok untuk mendukung air pada planet yang mengelilinginya.

Penelitian ini didasarkan pada ide baru dalam dunia astronomi, yang menyebutkan bahwa kehidupan hanya ada di wilayah tertentu dari galaksi Bima Sakti. Inti (core) dari teori ini adalah menyebutkan bahwa kemungkinan setiap kehidupan berbeda, apabila itu berada di dekat pusat galaksi maupun di luar pusat galaksi. Zona di galaksi Bima Sakti yang bisa mendukung kehidupan adalah berjarak 30 tahun cahaya dari inti galaksi.

Seorang yan bernama Michael Gowanlock, ahli dari University of Hawaii, menyebutkan bahwa zona galaktika yang dapat dihuni oleh kehidupan jauh lebih kompleks dan rumit dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam jurnal online arXiv, Gowanlock mengatakan, "Kami memperkirakan bahwa sekira 1,2 persen bintang di galaksi Bima Sakti mampu mendukung kehidupan.

Kecuali itu, para ahli juga mengatakan bahwa ledakan supernova, yang sebelumnya diperkirakan akan dapat memusnahkan kehidupan di planet lain, apabila ledakannya terjadi di bagian dalam galaksi, ternyata sisa-sisa peninggalannya justru dapat mendukung kehidupan yang lebih kompleks, dengan membentuk planet-planet dengan jarak yang ideal.

Minggu, 19 Februari 2017

Bintang Lahir Ketika Galaksi Bercuaca Buruk

Bintang Baru Lahir (sumber:sciencedaily.com)
Bintang Baru Lahir Ketika Galaksi Bercuaca Buruk - Sebuah tim Astronom dari Jerman telah berhasil membuktikan proses pembentukan bintang yang sangat tergantung pada lingkungan sekitar bintang dimana bintang tersebut dilahirkan. Penemuan ini dapat dijelaskan oleh tim tersebut dengan menggunakan seni simulasi komputer.

Hasil dari kesimpulan tim yang berbasis di Universitas Bonn, Jerman tersebut kemudian dipublikasikan pada Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society.

Dalam pandangan mereka, bintang baru diprediksikan terbentuk didalam ruang antar bintang dari awan gelap gas dan debu. Sifat bintang sangat tergantung pada kondisi lingkungan debu mereka. proses tersebut sama dengan proses pembentukan suhu dan keadaan awan di bumi ketika gerimis, hujan besar atau kecil, dan hujan es.

Salah satu anggota tim, Prof. Dr. Pavel Kroupa mengatakan bahwa Sampai dengan sekarang ini, bintang telah terbentuk secara tidak terduga dengan cara yang sama di mana-mana. Dan tempat yang menjadi tempat proses pembentukan bintang merupakan area dengan cuaca buruk di galaksi. Dalam analogi yang sangat kasar, proses tersebut sama halnya seperti hujan pengembunan dari bahan ini.

Pada saat sekarang ini, para ilmuwan mempunyai bukti bahwa distribusi massa bintang memang sangat tergantung kepada lingkungan di mana bintang-bintang terbentuk.

Menurut Dr Michael Marks, selaku penulis utama dari makalah tentang terbentuknya bintang baru ini, ada sesuatu yang aneh. Dikatakan aneh karena bukti-bukti terbentuknya bintang baru ini tidak datang kepada kita dari area pembentukan bintang muda. Akan tetapi keluar dari kelas bintang yang sangat tua, yang dalam istilah astronomi disebut dengan gugus bintang bulat.

Gugus bntang bulat adalah kelompok jutaan bintang yang ada di sekitar galaksi kita, yaitu Bima Sakti. Pembentukan bintang dalam gugus ini telah berhenti pada miliaran tahun yang lalu.Namun demikian, dengan menggunakan simulasi ini komputer, para ilmuwan Jerman tersebut menemukan bahwa hubungan antara pembentukan bintang dan lingkungan kelahirannya dapat dipahami. Yaitu terjadi ketika kekuatan proses yang sangat awal dalam kehidupan gugus manapun, yang disebut dengan pengeluaran sisa gas. Demikian pendapat tim tersebut sebagaimana yang tertuang dalam Sciencedaily.com.

Pada saat bintang selesai terbentuk, kemudian bintang itu mulai bersinar. Dan setelah bersinar, ia mengeluarkan radiasi. Secara cepat radiasi ini menghilangkan gas yang membentuk bintang tersebut. Wilayah kelahiran bintang kemudian hancur, meninggalkan bintang dari massa yang berbeda.

Rabu, 08 Juni 2011

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti. Satu lagi bintang baru telah berhasil dideteksi oleh beberapa astronom amatir dari Perancis. Bintang tersebut terdeteksi dalam pemantauan PTF Sky Survey yang dilakukan pada tanggal 31 Mei sampai dengan 1 Juni yang baru lalu serta berada di lengan galaksi tetangga kita yang terdekat dekat, yakni M51.

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti. Peristiwa ditemukannya bintang baru tersebut juga berhasil didokumentasikan oleh peralatan baru milik Martin Kraar Obesrvatory di Weizmann Institute, dan juga Wise Observatory milik Tel Aviv University di Mitzspe Ramon, Israel.

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti. Saat ini, bintang yang lahir akibat meledaknya supernova tersebut sedang dipelajari oleh tim peneliti internasional, termasuk di antaranya dari Israel, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan negara-negara yang lainnya.

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti. Supernova terakhir yang diamati di M51, sebuah galaksi berjarak 26 juta tahun cahaya dari Bumi, terjadi pada tahun 2005 lalu. Dikutip dari Daily Galaxy, 8 Juni 2011, supernova diperkirakan muncul sekitar 1 kali dalam 100 tahun di galaksi manapun.

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti. Seringnya fenomena supernova yang terjadi di M51 dapat dijelaskan dari interaksinya dengan galaksi lain yang sangat dekat. Kedekatan ini menyebabkan proses terbentuknya bintang berukuran raksasa menjadi semakin cepat.

Akibat cepatnya proses pembentukan bintang raksasa, terjadi pula percepatan hancurnya bintang berukuran sangat besar yang menimbulkan ledakan supernova.

Sabtu, 04 Juni 2011

Bintang Raksasa Bersinar terang, Tapi Apakah sendirian ?

Bintang Raksasa Bersinar terang, Tapi Apakah sendirian ?



Super-bintang terang biasanya ditemukan di pusat dari gugus bintang yang penuh sesak, tapi para ilmuwan telah menemukan bahwa salah satu bintang yang paling terang diketahui sebenarnya adalah serigala sendirian.

Penemuan ini mungkin akan mengubah cara berpikir para astronom akan bintang-bintang lahir dan akhir dari mereka sendiri.

Bintang raksasa, yang disebut VFTS 682, kira-kira 150 kali massa matahari. Itu terletak di Awan Magellan Besar, galaksi tetangga kecil Bima Sakti .

"Kami sangat terkejut menemukan seperti bintang raksasa sendirian, dan tidak dalam kelompok bintang yang banyak," kata peneliti Joachim Bestenlehner, seorang mahasiswa di Armagh Observatory di Irlandia Utara. "ini adalah asli misterius."

Sebuah tim astronom internasional mendeteksi bintang menggunakan Observatorium Eropa Selatan's Very Large Telescope . Hal ini membuat rumah di sebuah pembibitan bintang, sebuah patch raksasa gas, debu dan bintang-bintang muda yang merupakan wilayah pembentuk bintang paling aktif di Grup Daerah galaksi kita sebut rumah.

Sebuah bintang raksasa terang

Pada awalnya, peneliti berpendapat VTFS 682 panas, muda dan cerah, tapi diluar kebiasaan.

Namun, setelah menganalisis cahaya secara lebih intens, mereka menemukan bahwa kita hanya sedang melihat fraksi cahaya, dengan banyak energi bintang yang semakin diserap dan tersebar oleh awan debu sebelum mencapai Bumi. Mereka memperhitungkan itu jauh lebih bercahaya daripada pikiran sebelumnya, peringkat di antara bintang-bintang terang yang dikenal.

Bintang super-terang juga sangat panas, dengan suhu permukaan sekitar 90.000 derajat Fahrenheit (50.000 derajat Celcius). Sebagai perbandingan, matahari kita hanya memiliki suhu permukaan sekitar 10.000 derajat F (5.500 derajat C).

Walaupun bintang ini tampaknya berada di luar setiap gugus bintang sekarang, VFTS 682 sangat tidak jauh dari cluster bintang yang sangat kaya RMC 136, sering disebut hanya R 136, yang berisi beberapa yang mirip "superstar."

"Hasil penelitian baru menunjukkan bahwa VFTS 682 adalah kembar identik yang dekat dengan salah satu bintang terang di jantung dari kelompok bintang R 136," kata peneliti Paco Najarro di Pusat Astrobiology di Madrid.

Selasa, 24 Mei 2011

Lontaran Peluru Kosmik Bintang yang Meledak

Lontaran Peluru Kosmik Bintang yang Meledak

Sebuah objek antariksa yang berbentuk peluru nampak terlontar dahsyat keluar dari ledakan sebuah bintang yang mati. Lontaran Peluru Kosmik itu terekam dalam sebuah gambar yang diambil oleh Chandra, teleskop sinar X luar angkasa milik NASA.

Teleskop Chandra  tersebut mengambil gambar ledakan N49, supernova di Large Magellanic Cloud, sebuah galaksi kecil tetangga galaksi Bima Sakti. Peluru kosmik itu tertangkap saat astronom menggunakan Chandra selama 30 jam untuk mendapatkan eksposur yang lama.

Peluru kosmik yang menandakan terjadinya sebuah ledakan asimetris bergerak dengan kecepatan sekitar 8 juta kilometer per jam dan meninggalkan sumber titik terang di bagian kiri atas N49. Sumber terang ini disebut juga sebagai soft gamma-ray repeater (SGR), sebuah sumber yang memancarkan sinar gamma dan sinar X.

Dari pengamatan, kemungkinan objek tersebut merupakan bintang neuron yang memiliki medan magnet sangat kuat. Berhubung bintang neuron seringkali terbentuk dalam sebuah ledakan supernova, hubungan antara SGR dan sisa-sisa ledakan supernova merupakan hal yang umum.

Hubungan tersebut, dikutip dari Space, 23 Mei 2011, diperkuat oleh bukti akan adanya kesesuaian antara jalur peluru tersebut dengan sumber sinar X yang terang tersebut.

Dari foto yang dibuat oleh Chandra, diperkirakan usia N49 mencapai 5 ribu tahun dan energi yang dihasilkan oleh ledakan itu diperkirakan mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan ledakan supernova pada umumnya.

Hasil penelitian awal ini mengindikasikan bahwa ledakan itu berasal dari hancurnya sebuah bintang raksasa. Temuan dan foto-foto Chandra itu sendiri dipaparkan pada ajang American Astronomical Society di Miami, Florida, baru-baru ini.

Minggu, 01 Mei 2011

Spinstars, Bintang Tercepat di Jagad Raya

Spinstars, Bintang Tercepat di Jagad Raya

Spinstar
Menurut para peneliti dari Institute for Astrophysics dari Potsdam, Jerman, Spinstars, terbentuk 13,7 miliar tahun lalu setelah big bang dan pernah menjadi bintang yang sangat besar.

Putaran rotasi Spinstars mencapai lebih dari sejuta mil per jam atau 1,6 juta km per jam atau 500 km per detik,yang berarti 250 kali lebih cepat dari matahari.

Bahkan ukuran massanya sampai delapan kali lebih besar daripada massa matahari kita. Namun, karena bintang raksasa yang terbuat dari gas hidrogen dan helium ini memiliki masa hidup yang singkat, ia mati muda.

Dalam sebuah laporan yang dimuat di jurnal Nature, Dr Christina Chiappini dan koleganya dari Insitute for Astrophysics di Postdam, memanfaatkan teleskop European Southern Observatory Very Large Telescope di Chile untuk mempelajari komposisi kimia dari beberapa bintang tua di galaksi Bima Sakti.

Mereka mempelajari rasio elemen kimia yang ada pada kluster bintang NGC-6522. Kluster bintang ini dipilih karena mereka cukup tua untuk membentuk unsur kimia asli seperti yang dihasilkan oleh bintang yang hadir pada generasi pertama.

Selanjutnya, Chiapini berkesimpulan bahwa bintang-bintang generasi pertama ini sangat masif dan berotasi dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk mencapai derajat pencampuran elemen sehingga mereka bisa memproduksi elemen yang lebih berat.

Kalkulasi mereka mengindikasikan bahwa bintang-bintang generasi pertama ini berotasi kencang dengan kecepatan 500 kilometer per detik - atau 250 kali lebih tinggi daripada kecepatan matahari kita. Tak heran bila kemudian mereka menamakan bintang ini sebagai 'Spinstars'.

Seperti dilansir oleh situs berita ABC, Professor Mike Bessell dari Observatorium Mount Stromlo, milik Australian National University, paper Chiapini menjelaskan betapa pentingnya putaran atau rotasi pada bintang-bintang awal untuk memproduksi elemen-elemen seperti yang kemudian ditemukan di bintang-bintag generasi belakangan.

Selain konveksi yang dihasilkan dalam sebuah bintang menyebabkan adanya pencampuran, rotasi yang cepat menolong elemen-elemen yang baru terbentuk dan muncul di permukaan.

"Rotasi menolong bintang ini untuk memproduksi unsur Neon-22 dari Karbon pada pusat bintang. Unsur itu kemudian memungkinkan terbentuknya unsur yang lebih tinggi di bintang-bintang kita, yang secara normal hanya terjadi pada bintang-bintang bermassa rendah," kata Bessell.

Bessell menambahkan, unsur-unsur yang lebih berat terbentuk sangat awal di jagad raya ini, menyediakan bibit-bibit untuk terbentuknya hal-hal lain, belakangan.

"Ini memberikan kita pilihan lain untuk terciptanya unsur utama seperti nitrogen dan seluruh unsur yang lebih berat seperti timah dan seng. Semua unsur itu kita pikir belum akan tercipta, hingga lama sesudah itu."

Matahari

[Matahari][recentbylabel2]

Planet

[Planet][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done