Berita Antariksa Terbaru: Planet
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Planet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Planet. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juni 2019

Satelit Jepang Menembus Planet Venus

Satelit Jepang Menembus Planet Venus

Satelit Jepang Menembus Planet Venus
Jepang makin menunjukkan tajinya dalam penjelajahan luar angkasa. Tak hanya berhasil mendaratkan roket Hayabusa yang membawa membawa sampel asteroid pertama ke Bumi.

Selasa 7 Desember 2010, satelit Jepang siap memasuki orbit Venus dalam misi dua tahun yang akan menjadi tonggak program luar angkasa negeri sakura itu. Sekaligus, menjawab pertanyaan soal iklim tetangga misterius Bumi itu.

Satelit yang dinamakan 'Akatsuki' yang berarti 'Fajar' akan menjadi satelit pertama Jepang yang mengorbit planet lain. Amerika Serikat dan Eropa telah lebih dulu melakukannya.

Para ilmuwan mengaku mereka sempat kehilangan kontak dengan satelit tanpa awak itu Selasa pagi.

Juru bicara Badan Antariksa Jepang (JAXA), Tsutomu Yoshioka mengatakan, akibat ganguan tersebut, dibutuhkan waktu beberapa jam lebih lama dari yang diharapkan untuk memutuskan status satelit.

Akatsuki yang diluncurkan 20 Mei 2010 dirancang untuk memantau aktivitas gunung berapi di Venus dan menyediakan data tentang cakupan awan tebal dan iklim, termasuk apakah planet ini memiliki petir. Satelit ini ini dilengkapi dengan kamera inframerah dan instrumen lainnya untuk melaksanakan misinya.

Satelit berharga US$300 juta ini ditujukan untuk mengorbit di sekitar Venus, mulai 300 kilometer sampai 80 ribu kilometer -- jarak yang memungkinkan memonitor pola cuaca secara komperehensif.

Salah satu misteri yang ingin dipecahkan para ilmuwan adalah intensitas angin permukaan Venus yang diyakini memiliki kecepatan sampai 360 kilometer per jam.

Menembus orbit Venus adalah sukses besar bagi Jepang yang pernah gagal menempatkan satelitnya di orbit mars. Satelit ke Mars yang diberi nama Nozomi, atau "Harapan" yang diluncurkan pada tahun 1998 mengalami serangkaian masalah teknis.

Untung satelit Hayabusa berhasil sukses memawa sample Asteroid Itokawa -- ini jadi dorongan semangat bagi program luar angkasa Jepang.

Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, Jepang dibayang-bayangi langkah besar China yang bahkan telah dua kali mengirimkan astronotnya ke luar angkasa sejak tahun 2003.

Padahal, Jepang duluan menjadi negara terkemuka di bidang penjelajahan luar angkasa dengan menjadi negara Asia pertama yang menempatkan satelitnya di sekitar orbit Bumi di tahun 1970 dan mampu mengembangkan roket pendorong yang handal.

• VIVAnews

Mengembara ke Planet Merah

Tanggal 7 April 2001, wahana antariksa 2001 Mars Odyssey diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida dengan tujuan planet Mars. Wahana tak berawak yang namanya diambil dari judul film klasik "2001 Space Odyssey" ini membawa seperangkat instrumen ilmiah untuk meneliti permukaan planet tersebut, khususnya karakteristik cuaca dan geologi disana, sekaligus juga bertugas mengumpulkan informasi mengenai potensi bahaya radiasi yang mungkin dapat membahayakan manusia di permukaan planet merah itu. Misi ini merupakan bagian dari serangkaian misi yang dilakukan NASA dalam rangka mempersiapkan pengiriman misi berawak ke Mars.

Selain Bulan, Mars termasuk obyek yang paling banyak diteliti oleh wahana buatan manusia. Dalam 40 tahun belakangan, telah tercatat sekitar 30 wahana tak berawak yang dikirim ke Mars oleh tiga negara, namun hanya kurang dari sepertiganya yang dinyatakan berhasil. Yang paling sukses diantaranya adalah wahana Viking 1 (diluncurkan 20 Agustus 1975, tiba di orbit Mars 19 Juni 1976) dan Viking 2 (diluncurkan 9 September 1975, tiba di orbit Mars pada 7 Agustus 1976). Kedua misi Viking ini melepaskan wahana pendarat ke permukaan planet tersebut yang bertugas mengirimkan gambar-gambar dari lokasi pendaratan dan melakukan serangkaian percobaan ilmiah disana. Pada tahun 1996 NASA juga telah mengirimkan wahana Pathfinder.

Wahana yang terdiri dari modul pendarat (lander) seberat 264 kg dan kendaraan penjelajah seberat 10,5 kg yang dinamai Sojourner Rover berhasil mencapai permukaan Mars di daerah yang dikenal sebagai Ares Vallis pada 4 Juli 1997. Hingga misinya berakhir pada tanggal 17 september 1997 -- setelah komunikasi terputus karena alasan yang tidak diketahui, wahana tersebut telah mengirimkan lebih dari 16.000 gambar serta melakukan lebih dari 15 analisis kimia terhadap batuan dan kondisi angin serta cuaca di permukaan Mars.

Sedangkan tercatat diantara misi-misi yang gagal adalah wahana Mars Polar Lander. Wahana senilai USD 165 juta yang diluncurkan pada 3 Januari 1999 ini kehilangan kontak dengan pengendali di bumi pada 3 Desember 1999 saat melakukan pendaratan di planet tersebut. Tim penyelidik NASA menyimpulkan bahwa Roket pada wahana tersebut mati sebelum waktunya hingga wahana tersebut meluncur dari ketinggian 130 kaki tanpa ada gaya yang menahannya.

Extrasolar Planets

Tanggal 4 April 2001 lalu, sekelompok tim astronom internasional mengumumkan penemuan 11 buah planet baru yang berada diluar tata surya kita, atau yang biasa diistilahkan dengan Extrasolar Planet. Penemuan ini menambah jumlah Extrasolar Planet yang telah diketahui menjadi 63 buah. Salah satu diantaranya mengorbit bintang yang mirip dengan Matahari kita pada zona yang memungkinkan terbentuknya kehidupan disana.

Adanya planet pada sistem tata surya diluar matahari kita, pertama kali dibuktikan keberadaannya pada bulan Oktober 1995 ketika dua orang astronom yaitu Michel Mayor dan Didier Queloz berhasil menemukan sebuah planet yang mengorbit pada bintang 51 Pegasi di konstelasi Pegasus (50 tahun cahaya dari Bumi kita). Dalam jangka waktu beberapa tahun setelah penemuan pertama tersebut, puluhan Extrasolar Planet lainnya telah pula ditemukan.

Hingga saat ini, extrasolar planet yang berhasil dideteksi umumnya adalah planet raksasa sekelas Jupiter dan Saturnus di sistem Matahari kita. Planet dengan kondisi dan ukuran yang mirip dengan planet Bumi diyakini ada, namun keterbatasan teknologi peralatan yang ada saat ini menyulitkan pendeteksiannya.

Penemuan Extrasolar Planet ini membuka harapan akan ditemukannya planet yang dihuni mahluk hidup dengan peradaban yang lebih maju. Hingga saat ini dalam tata surya kita, hanya Bumi-lah satu-satunya planet yang mempu mendukung adanya kehidupan. Misi tak berawak yang telah dikirim ke planet-planet tetangga (Venus dan Mars) maupun misi wahana Pioneer dan Voyager ke planet-planet luar (Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus) menunjukkan bahwa kondisi di planet-planet tersebut tidak memungkinkan untuk berkembangnya suatu bentuk kehidupan, bahkan yang paling sederhana sekalipun.

Kamis, 30 Mei 2019

Wajah Gandhi di Planet Mars!

Wajah Gandhi di Planet Mars

Ternyata cuma permukaan tanah tidak rata


Wajah Gandhi di Planet Mars! Itu hanya sebuah asumsi. Adalah seorang warga Italia yang bernama Matteo Ianneo mengklaim telah melihat gundukan tanah menyerupai wajah Mahatma Gandhi di permukaan planet Mars. Wow... siapa yang melukis ya? Tahu ah...

Pahatan wajah yang menyerupai Mahatma Gandhi itu ditemukan oleh Ianneo, seorang penggila astronomi, saat sedang mengamati Planet Merah atau planet Mars itu dengan menggunakan Google Mars, yaitu sebuah peta online baru yang menampilkan gambar planet tersebut dari satelit.

Di samping itu, dalam beberapa pekan terakhir Ianneo juga mengklaim bahwa telah menemukan banyak tumbuhan, akses menuju sebuah terowongan bawah tanah serta reruntuhan kota di Mars. Tidak hanya itu saja, dia pun mengaku melihat wajah guru spiritual India Mahatma Gandhi di permukaan planet Mars.

Tetapi pembaca tahu tidak bahwa pernyataan Ianneo segera dimentahkan atau dilemahkan oleh Jonathan Hill, seorang peneliti Mars Space Flight Facility di Arizona State University, yang mengamati temuan itu dengan resolusi komputer lebih tinggi.

Katanya, "Sebenarnya yang terlihat adalah cuma semacam terowongan runtuh, bukan pahatan seperti yang tampak pada gambar di Google Mars," cetus Hill sebagaimana dikutip Straits Times, Selasa (14/6/2011).

Apa yang disampaikan oleh Matteo Ianneo ini adalah bukan hal pertama seseorang mengaku melihat pahatan wajah di permukaan Mars. Pada 1976 lalu, sebuah penampakan menyerupai wajah manusia berhasil ditangkap pesawat ulang-alik Viking 1 milik NASA.

Dasar penggila astronomi, mereka  tetap beranggapan bahwa pahatan itu sengaja dibentuk oleh leluhur makhluk Mars. Namun gambar beresolusi tinggi dari kamera HiRISE milik NASA tahun lalu menunjukkan bahwa pahatan wajah manusia itu tidak lebih dari sebuah bukit yang tidak rata.

Rabu, 29 Mei 2019

Material Asteroid Adalah Bahan Membangun Planet

Material Asteroid Adalah Bahan Membangun Planet
Material Asteroid Adalah Bahan Membangun Planet.. 27 Juni 2011 yang lewat, sebuah asteroid dengan nama 2011MD melintas di dekat Bumi. Dan jaraknya jauh lebih dekat bula dibandingkan antara jarak Bumi dengan Bulan.

Dengan berbondong-bondong, para sstronom dan ilmuwan dari seluruh dunia mengamati kehadiran asteroid 2011MD tersebut. Lalu pertanyaannya adalah : Apakah demikian pentingnya hingga kemunculan asteroid mendapat perhatian sedemikian luar biasa?

Dan jawabannya adalah "memang penting". Kenapa penting? Karena material pada asteroid merepresentasikan bahan untuk membangun sebuah planet. Demikian penjelasan Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA. Hal ini berhubungan dengan posisi sabuk asteroid di tata surya berada di antara planet-planet dalam yang keras berbatu, sementara planet-planet luar terdiri dari gas, material yang ada di asteroid mengandung petunjuk mengapa planet-planet tersebut sangat jauh berbeda.

Menjadi contoh adalah asteroid Vesta dan planet kerdil Ceres yang terbentuk pada kisaran waktu kurang lebih sama yaitu sekitar 10 juta tahun setelah tata surya terbentuk. Tetapi pada saat sekarang ini, kedua benda angkasa itu kandungan komposisinya sangat jauh berbeda.

Vesta, yang dulu pernah meleleh secara total dan kemudian memadat kembali kini permukaannya menjadi sangat halus. Sedangkan Ceres, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia pernah mengalami tahapan proses pelelehan.

Kemungkinannya adalah, Vesta mengalami lebih banyak benturan atau trabakan dengan benda-benda angkasa lainnya atau ia memiliki aluminium yang berbentuk radioaktif tingkat tinggi yang melepaskan panas saat pelepasan radioaktif. Dengan mempelajari setiap asteroid, ilmuwan dapat memecahkan misteri ini.

Selasa, 28 Mei 2019

Merkurius : Planet Misterius Dekat Matahari


merkurius-planet-misterius-dekat-matahari

Planet misterius dekat Matahari. Mercury : Mysterious planet close to the Sun. Planet terdekat dengan Matahari akan segera memberikan beberapa rahasia yang menggoda - seperti mengapa ia memiliki air es di kutub nya - sebagai pendekatan misi Messenger.

Dibawah ini adalah video planet mercurius dengan rahasia yang menggodanya :


Planet mercurius dengan rahasia yang menggodanya

Senin, 27 Mei 2019

Manfaat Bulan Bagi Planet

Manfaat Bulan Bagi Planet


Bulan Bantu Stabilkan Planet


Dari hasil simulasi komputer menunjukkan bahwa sekitar 10 persen dari planet-planet di jagad raya ini mempunyai bulan berukuran besar. Fungsi dari bulan-bulan tersebut adalah untuk membantu menstabilkan kemiringan planet.

Dalam Scientific American, Senin (27/6/2011) disebutkan bahwa Bulan kita mempunyai fungsi sebagai penyeimbang Bumi. Manakala bulan tidak ada atau seandainya tidak diciptakan oleh Allah, maka posisi Bumi akan goyah. Di samping itu, bulan juga memerankan fungsi sebagai alat untuk menstabilkan iklim di Bumi. Subhana Allah!!!

Dijelaskan oleh para peneliti bahwa terbentuknya bulan bermula dari puing-puing reruntuhan Mars yang mengelilingi Bumi saat masih berusia muda.

Sebagai tambahan informasi, Planet-planet lain di Tata Surya kita yang tidak memiliki bulan adalah Venus dan Merkurius.

Sekelompokahli  peneliti melakukan simulasi formasi ratusan planet, dan mereka berhasil menemukan bahwa hampir separuh dari jumlah planet yang ada memiliki latar belakang yang sama dalam hal memiliki bulan. Dan hampir sekitar 10 persen dari planet-planet yang ada mempunyai bulan besar, bila dibandingkan dengan bulan milik Bumi.

Dari hasil penelitian ini dinyatakan bahwa bila planet seperti Bumi ada cukup banyak jumlahnya, maka mereka akan mendapat keuntungan yang sama dari bulan, yaitu mendapat penyeimbang iklim dan posisi planet.

Penelitian yang berjudul 'How Common Are Earth-Moon Planetary Systems?' ini dipublikasikan dalam jurnal sains Icarus.

Badai Terbesar di Saturnus

saturnus, badai saturnus
Peristiwa badai di planet Saturnus berhasil direkam oleh Ilmuwan NASA, baik visual maupun suara. Luas badai di planet tersebut adalah delapan kali lebih luas dari permukaan Bumi.

Badai terbesar di planet Saturnus tersebut pertamakali berhasil terdeteksi oleh Cassini lintasan sekitar 35 derajat lintang utara pada Desember tahun 2010 lalu, dan tampak badai itu sudah berkecamuk sejak saat itu. Kamera pencitraan Cassini memperlihatkan badai membungkus dan melingkupi seluruh permukaan planet, yang luasnya sekitar 1,5 miliar mil persegi.

Badai yang baru saja terekam adalah 500 kali lebih besar dari badai terbesar sebelumnya yang sempat terlihat oleh Cassini sejak tahun 2009. Tampak kilatan kilat berkedip sebanyak 10 kali lebih intens dibandingkan dengan yang telah terlihat pada badai yang lain. Paling intens, badai kilat yang dihasilkan lebih dari 10 kali per detik.

Andrew Ingersoll menyatakan kalau Satelit Cassini memperlihatkan kepada kita bahwa planet Saturnus adalah bipolar. Saturnus tidak seperti Bumi dan Jupiter. Di antara ketidaksamaannya adalah di sana cukup sering terjadi badai yang muncul bersama selama bertahun-tahun dan kemudian meledak sangat keras. Saya senang, bahwa kami bisa melihat cuaca yang begitu memukau pada jam tangan kami.

Cassini berhasil mendeteksi badai petir yang terjadi di Saturnus sejak 10 pesawat memasuki orbit planet dan belahan Bumi selatan mengalami musim panas, dengan pencahayaan matahari penuh.

Sementara itu Georg Fischer mengatakan, "Badai ini sangat mendebarkan. Hal ini karena peristiwa ini menunjukkan bagaimana pergeseran musim dan pencahayaan matahari dapat secara dramatis membangkitkan cuaca di Saturnus. Kami telah mengamati badai di Saturnus selama hampir tujuh tahun, sehingga pelacakan badai begitu berbeda dari yang lain dan telah menempatkan kami di tepi kursi kami.

Badai yang terjadi di planet Saturnus terbaru tersebut merupakan kegiatan pertama dari kampanye baru badai Saturnus yang dapat disaksikan, dimana Cassini memantau lokasi badai.

Kamis, 19 April 2018

Misteri Terbesar Planet Venus

Meskipun planet kedua dari matahari dinamai dewi cinta Romawi, Venus adalah sesuatu tapi indah, setidaknya dari perspektif hospitality. Sebagai bukti permulaan, suhu permukaannya hingga mencapai 900 derajat Fahrenheit, dan ini membuat Venus merupakan planet terpanas di tata surya.

Seperti yang Anda bayangkan, mempelajari Venus telah terbukti sulit. Tapi sedikit demi sedikit, para ilmuwan belajar lebih banyak tentang planet tetangga terdekat Bumi ini. Berikut ini adalah beberapa misteri terbesar tentang obyek terang di langit kita setelah matahari dan bulan:

Iklim pergi untuk merusak

Venus kadang-kadang disebut sebagai "kembaran jahat" Bumi. Dalam hal ukuran, komposisi dan lokasi orbit, neraka Venus sebenarnya merupakan planet yang paling mirip dengan planet yang kita miliki (paling tidak seperti yang kita tahu). Pada awal dalam sejarah Venus, para ilmuwan berpikir, bahwa dunia ini kemungkinan banyak seperti Bumi, dengan lautan dan iklim yang lebih dingin.

Baca juga:

Tapi lebih dari beberapa miliar tahun, efek rumah kaca tampaknya telah mengambil alih. Venus adalah kira-kira sepertiga lebih dekat ke matahari daripada Bumi, dan karena itulah maka Venus menerima dua kali jumlah sinar matahari. Panas yang berlebihan menyebabkan penguapan yang lebih besar dari permukaan air pada awalnya. Pada gilirannya, uap air yang terperangkap menjadi lebih panas, pada tahapan selanjutnya, pemanasan planet ini memicu penguapan secara berlebihan, dan seterusnya, sehingga mengakibatkan lautan lenyap.

Mencari tahu persisnya kapan dan bagaimana Venus menjadi tungku pemanas akan membantu kita dalam pemodelan iklim bumi yang berubah, serta menghindari kemungkinan bumi berbagi nasib sama seperti Venus.

Super-atmosfer berputar 

Venus ternyata berputar pada porosnya jauh lebih lambat daripada Bumi - satu hari Venus pun berlangsung sama dengan 243 hari di Bumi, yang lebih dari satu tahun Venus, yang memakan waktu 224 hari Bumi. Angin di puncak awan Venus bisa mencapai 220 mil per jam (360 kilometer per jam), atau sekitar 60 kali kecepatan perputaran planet. (Angin disebabkan sebagian oleh rotasi planet.) Persamaannya, jika angin yang sama bertiup di bumi, angin awan khatulistiwa akan mencapai kecepatan yang menakjubkan yaitu 6.000 mil per jam (9.650 kilometer per jam).

Spinning mundur
 
Semua planet di orbit tata surya matahari dalam arah yang berlawanan bila dilihat dari kutub utara matahari, dan hampir semua berputar dalam arah yang sama pada sumbu mereka. Tidak begitu di Venus, yang memiliki rotasi retrograde (Uranus melakukan hal ini, juga). Di Venus, dengan kata lain, matahari terbit di barat dan terbenam di timur.

Flash, boom?
 
Ini masih merupakan pertanyaan terbuka jika memang zaps petir dari awan Venus. Meskipun pesawat ruang angkasa Venus Express telah "mendengar" elektromagnetik statis yang menghasilkan karakteristik petir di Bumi, kamera belum menangkap flash optik yang jelas, kata Grinspoon.

Baca juga:
 
Bagaimana petir ini mungkin termasuk bentuk misterius juga. Di Bumi, peran kunci dimainkan oleh kristal es dalam awan, bahan yang ada di pasokan pendek di atmosfer hiper-kering Venus.

Hot spot kehidupan Alien?
 
Grinspoon mengatakan, ada argumen yang masuk akal untuk kehidupab Venus - bukan di permukaan planet super panas, tetapi dalam awan. Sekitar 30 kilometer, ada tempat yang bisa ditinggali di mana tekanan dan suhu sama dengan. Untuk energi, makhluk mengambang menyerupai bakteri bisa menggunakan sinar matahari yang cukup atau bahan kimia di awan . Tentu saja, makhluk ini akan mentolerir asam sulfat, tapi yang disebut di Bumi dengan extremophiles telah menunjukkan bahwa kehidupan dapat berkembang bahkan dalam lingkungan yang paling keras.

"Awan ini perlu ditelusuri karena berbagai alasan," kata Grinspoon, "dan salah satunya adalah kemungkinan semacam kehidupan yang eksotis."

Senin, 20 Februari 2017

Temukan Planet Alien Galaxi Lain HIP 13044b

Temukan Planet Alien Galaxi Lain HIP 13044b
Para astronom telah mengkonfirmasi temuan planet alien (asing) di Galaksi Bima Sakti yang datang dari galaksi lain. Namanya, Planet HIP 13044b yang mengorbit bintang tua, HIP 13044.

Planet mirip Yupiter ini sebenarnya lahir di galaksi lain, namun kemudian ditangkap oleh Bima Sakti sekitar 6 sampai 9 miliar tahun yang lalu. Efek samping dari kanibalisme galaksi membawa sebuah planet yang dulunya jauh kini berada dalam jangkauan para astronom untuk kali pertamanya.

Planet ini ditemukan oleh tim astronom dari Max-Planck-Institut fur Astronomie (MPIA), Heidelberg, Jerman. Tim peneliti meneliti pergerakan HIP 13044 menggunakan teleskop di sebuah observatorium di selatan Eropa,  La Silla Observatory di Chile.

Setelah enam bulan pengamatan, mereka meneteksi gerakan-gerakan kecil yang melawan tarikan gravitasi planet yang mengorbit.

Yang membuat bangga, astronom asal Indonesia, Johny Setiawan didaulat jadi pemimpin proyeknya.

“Bagi saya, itu adalah kejutan besar,” kata pemimpin tim, Johny Setiawan dari MPIA, speerti dimuat SPACE.com, 18 November 2010.  “Kami tidak mengharapkan itu pada awalnya.”

Tim peneliti yang dipimpin Johny Setiawan membeberkan hasil observasinya secara online dalam situs Science  edisi 18 November.

Ukuran planet ini  25 persen lebih besar dari Jupiter. Ia mengorbit bintang HIP 13044  yang jaraknya 2.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Fornax.

Planet HIP 13044b berada sangat dekat dengan bintangnya itu. Jarak terdekat dengan bintang induk sekitar 8 juta kilometer atau 5,5 persen jarak Bumi dan Matahari. Planet menyelesaikan orbit setiap 16,2 hari.

HIP 13044b selamat dari fase penuaan bintang — yang juga akan dialami Matahari sekitar 5 miliar tahun lagi.

Penemuan ini memaksa para astronom memikirkan kembali ide-ide mereka tentang formasi planet dan kelangsungan hidupnya.  Apalagi, ini adalah planet pertama yang ditemukan mengelilingi bintang yang sangat tua dan miskin logam.

Johny setiawan memperkirakan, nanti, saat Matahari memasuki fase penuaan, menjadi raksasa merah, Bumi mungkin tak akan selamat.

“Planet-planet dalam, termasuk Bumi, mungkin tidak akan bertahan hidup,” kata Johny Setiawan.

“Tapi Jupiter, Saturnus dan planet-planet luar mungkin pindah mendekat ke orbitnya, persis seperti yang kami deteksi.”

Dalam kasus HIP 13044b, planet ini adalah korban yang selamat. Namun, ia tak akan hidup selamanya. Sebab, bintang induknya akan terus berkembang dalam tahap evolusi berikutnya. Planet ini akan tertelan.

Sekilas tentang Johny Setiawan

Johny Setiawan adalah astrofisikawan muda asal Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Jerman. Hebatnya, ia orang non-Jerman yang dipercaya sebagai ketua tim proyek.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 ini menamatkan S-1 dan S-3-nya di Freiburg, Jerman.

Sebelumnya, engan teleskop 2,2 meter di La Silla, Cile, Johny berhasil menemukan planet baru: HD 11977 B. Planet ini berjarak 200 tahun cahaya dari bumi . Planet berukuran 6,5 kali Jupiter ini mengitari bintang raksasa HD 11977A. Sebelum merilis temuannya, Mei lalu, Setiawan memelototi bintang itu sejak 1999.

Sebelumnya, pemuda kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974, ini juga menemukan dua bintang raksasa baru, HD 47536B dan HD 122430B, pada 2003.

Minggu, 19 Februari 2017

1 Hari Neptunus = 15 jam, 57 menit dan 59 detik

neptunus, planet neptunus
Setelah melacak beberapa fitur terpilih sebagai obyek di atmosfir, akhirnya para peneliti sukses melakukan pengukuran dengan akurat pertama pada periode rotasi planet Neptunus. Dan didapati, 1 (satu) hari di planet Neptunus sama dengan 15 jam, 57 menit dan 59 detik.

Penemuan ini menambah khazanah pengetahuan kita tentang hal yang sangat pokok di Neptunus. Dan juga dapat dipahami mekanisme untuk memahami bagaimana massa planet neptunus itu didistribusikan. Sebagai tambahan informasi bahwa Neptunus merupakan planet raksasa (giant planet) yang terbuat dari gas.

Erich Karkoschka, seorang ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona mengatakan bahwa Neptunus mempunyai dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut. Fitur seperti ini, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.

Cara yang ditempuh untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet Neptunus adalah dengan mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Kemudian diukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap dan kemudian menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.

Karena planet Neptunus sudah berotasi sekitar 10 ribu kali dalam 20 tahun terakhir, maka dapat diketahui secara akurat periode putaran dengan melacak fitur-fitur ini dalam jangka waktu tersebut.

Dari apa yang telah dihasilkan dalam penelitian ini, tentang akurasi perhitungan rotasi Neptunus, merupakan peningkatan khazabah pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.

Pada saat sekarang ini, dalam lingkaran ilmuwan muncul kesepakatan atau konsensus bahwa temuan Karkoschka tentang rotasi planet Neptunus memang akurat. Hal ini diakui juga oleh Craig O’Neill, seorang ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, bahwa temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.

Craig O’Neill mengatakan,“Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa. “Pertanyaan besar berikutnya adalah, bagaimana caranya itu bisa terjadi,” ucapnya.

Gerakan Pasir Planet Mars Seperti Pasir di Bumi

Gerak Pasir P. Mars (source:nationalgeographic.co.id)
Gerakan dan pergeseran pasir Planet Mars ternyata sama seperti pasir di Bumi. Peristiwa ini terekam oleh teknologi angkasa milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yaitu Mars Reconnaissance Orbiter. Yang mengejutkan dari peristiwa bergeser dan bergeraknya pasir Planet Mars ini adalah tidak sesuai dengan kondisi cuaca di Mars. Seperti diketahui bahwa kondisi cuaca dan atmosfer planet merah itu tidak memungkinkan dapat menggerakkan pasir seperti itu.

Atmosfer yang dimiliki Planet Mars jauh lebih lebih tipis dari Bumi. Sementara kecepatan angin di Mars juga tidak lebih kuat dan sering bila dibandingkan dengan di bumi. Yang aneh adalah pergerakan pasir di Mars tersebut hampir sama dengan pergerakan pasir di Bumi.

High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) yang terdapat di Mars Reconnaissance Orbiter berhasil merekam pergerakan pasir tersebut. Menurut jurnal Nature yang dirilis pada Rabu (9/5) 2012, gundukan pasir yang terekam mempunyai ketebalan 61 meter serta bergeser sejajar dengan permukaan Planet Mars.

Penemuan yang mengejutkan ini diprediksi akan membantu para ilmuwan untuk memahami perubahan kondisi dan situasi Planet Mars pada skala global. Di samping itu, pemahaman terhadap fakta bahwa permukaan Mars yang bergerak dinamis akan menjadi bahan informasi penting dalam perencanaan eksplorasi dan penelitian Planet Mars, baik akan menggunakan robot ataupun misi dengan mengirimkan manusia.

Para ilmuwan telah menganalisis terhadap foto-foto yang diambil pada tahun 2007 dan 2010 di area Nili Patera, yaitu gundukan pasir yang terletaki dekat garis khatulistiwa Mars. Dengan menghitung gerak lapisan, diambil kesimpulkan bila tumpukan pasir tersebut adalah benar bergerak. Gerakan ini kemudian memungkinkan dilakukannya pengukuran volume dan aliran pergerakan pasir.

Dipilihnya area Nili Patera dikarenakan telah diketahui adanya pergerakan pasir di sana yang bisa diukur. Gundukan pasir di area tersebut juga mirip dengan gundukan di Antartika dan lokasi-lokasi lain di Mars.

Hasil penelitian ini akan memperkaya khasanah informasi tentang pengikisan batu oleh pasir di Planet Mars. Dengan memperhitungkan volume pasir yang terus bergerak, para peneliti telah memperkirakan bahwa bebatuan di Nili Patera akan tergerus seperti bebatuan di Antartika.

Kamis, 26 Mei 2011

Misi Robot Penjelajah Mars Spirit Berakhir

Misi Robot Penjelajah Mars Spirit Berakhir

robot penjelajah Mars, Spirit
Misi Robot Penjelajah Mars Spirit Berakhir. Setelah kehilangan kontak lebih dari satu tahun dengan robot penjelajah Mars, Spirit, NASA akhirnya memilih untuk tidak melakukan kontak lagi. Sejak 25 Mei 2011 lalu, badan antariksa AS (NASA) mengonfirmasi bahwa mereka akan mengakhiri seluruh rencana komunikasi dengan Spirit.

Langkah yang ditempuh ini berarti juga memastikan bahwa misi robot penjelajah Spirit telah berakhir setelah menjalankan misi selama 7 tahun terakhir.

Sesaat sebelumnya, NASA berharap bahwa musim semi yang segera hadir di planet Mars akan membuat robot Spirit mampu mengisi ulang baterai lewat panel surya yang ada sehingga mampu melakukan kontak radio. Namun sepertinya, robot Spirit itu mengalami kerusakan parah sampai tidak bisa diperbaiki.

Sebagai informasi tambahan, di musim dingin terakhir yang melanda Mars, robot penjelajah Mars, Spirit terpaksa menjalankan tugas di temperatur yang sangat dingin membeku.

“Tampaknya kini kita hanya bisa melihat bahwa Spirit merupakan sebuah penjelajah kecil dan mengenang sejumlah sukses dan pencapaian yang telah ia raih selama hidupnya,” kata David Lavery, seorang eksekutif NASA, seperti dikutip dari Engadget, 26 Mei 2011.

Semangat Spirit akan terus hidup, namun bagaimana dengan kelanjutan misi NASA di planet Mars?

Lavery menyebutkan, saat ini Opportunity, penjelajah Mars milik NASA lainnya yang bertugas sejak tahun 2004 lalu masih dalam kondisi baik. Akhir tahun 2011 ini, ia akan ditemani oleh Curiosity, robot penjelajah generasi terbaru yang menggunakan tenaga nuklir, untuk menyelidiki apakah Mars pernah menampung kehidupan.

Sementara itu, jaringan pesawat ruang angkasa NASA juga akan terus mendengarkan sinyal dari Spirit, untuk berjaga-jaga jika ada kejadian luar biasa yang membuat Spirit kembali mampu mengirimkan sinyal radio.

Jumat, 20 Mei 2011

Video Planet Kerdil (Haumea) yang Diselimuti Es

haumea, planet kerdil
Ada lagi planet yang disebut Haumea, yaitu planet kerdil berbentuk aneh, dan diperkirakan salah satu dari dua bulan yang ia miliki mengandung es.

Planet Haumea ( planet kerdil ) mempunyai ukuran lebar seluas 1.960 kilometer. Bentuknya lonjong dan merupakan planet kerdil kelima yang teridentifikasi milik Matahari kita. Planet Haumea mempunyai jarak 35 kali lebih jauh dibanding jarak Matahari dengan Bumi. Planet Haumea memiliki bobot sepertiga massa Pluto.

Orbit planet Haumea ( planet kerdil ) ini berada di sekitar sabuk Kuiper, dan tepat berada di belakang Pluto. Bentuk lonjongnya diperkirakan disebabkan oleh periode rotasinya yang super cepat yakni 3,9 jam saja.

Ia pertamakali ditemukan pada tahun 2003 lalu oleh sekelompok astronom Amerika Serikat di Cerro Tololo Inter-American Observatory. Awalnya ia diberi nama 2003 EL61, sebelum diganti menjadi Haumea, nama seorang dewi penduduk Hawaii yang melambangkan kesuburan.

Tidak seperti benda lain di sabuk Kuiper, Haumea tidak terdiri dari campuran es dan batu dalam jumlah yang imbang, melainkan kerak es yang menyelimuti interior yang berbatu.

Di bawah ini adalah videonya :


Planet Gliese 581d Mampu Menampung Kehidupan

Planet Gliese 581d Mampu Menampung Kehidupan

Planet Gliese 581d
Planet Gliese 581d Mampu Menampung Kehidupan. Gliese 581d, sebuah planet bebatuan raksasa yang mengitari sebuah bintang red dwarf (bintang dengan massa lebih rendah dibanding Matahari dan bersuhu di bawah 4000 derajat Kelvin) dikonfirmasi sebagai planet pertama yang memenuhi persyaratan mampu menampung kehidupan.

Planet yang berjarak sekitar 20 tahun cahaya dari Bumi ini merupakan salah satu tetangga terdekat planet kita. Ia diperkirakan bersuhu cukup hangat dan cukup basah untuk menumbuh kembangkan kehidupan serupa yang dimiliki planet Bumi. Karena itulah, Planet Gliese 581d dianggap Mampu Menampung Kehidupan

Gliese 581d mengorbit di zona Goldilocks (kawasan di mana kehidupan dimungkinkan terbentuk) milik bintang Gliese 581. Seperti diketahui, di Goldilocks zone, temperatur tidak terlalu panas sehingga menyebabkan air mendidih ataupun tidak terlalu dingin hingga membuatnya membeku namun  berada di suhu yang tepat agar air tetap dalam bentuk cair.

“Dengan atmosfir yang padat akan karbon dioksida, yang merupakan skenario paling memungkinkan untuk planet berukuran raksasa, iklim di Gliese 581d stabil dan cukup hangat untuk memiliki samudera, awan, dan curah hujan,” kata peneliti National Centre for Scientific Research (CNRS).

Dikutip dari Daily Galaxy, 19 Mei 2011, menurut penelitian yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters, Gliese 581d memiliki massa setidaknya 7 kali lipat dibanding Bumi berukuran sekitar 2 kali lipat planet Bumi.

Sebelum ini, perhatian astronom justru fokus ke saudaranya, yakni planet Gliese 581g, setelah diketahui bahwa planet tersebut memiliki massa serupa dengan massa Bumi dan juga berada di dekat zona Goldilocks.

Pertamakali ditemukan pada tahun 2007, Gliese 581d awalnya tidak masuk kandidat sebagai tempat untuk mencari kehidupan di luar Bumi. Salah satu alasannya adalah ia hanya mendapat sepertiga radiasi Matahari seperti yang didapat Bumi dan kemungkinan ‘tidally locked’ atau hanya satu sisi yang selalu menghadap mataharinya dan punya siang dan malam hari permanen.

Akan tetapi, pemodelan terbaru yang dibuat oleh Robin Wordsworth, Francois Forget, dan rekan-rekan ilmuwan CNRS lainnya menunjukkan hasil yang mengejutkan. Atmosfir planet itu mampu menyimpan panas berkat padatnya gas CO2 dan dihangatkan oleh cahaya dari bintangnya.

“Secara keseluruhan, temperatur di sana memungkinkan air cair hadir di permukaan planet itu,” kata peneliti. “Massa planet yang besar juga berarti gravitasi di permukaannya kurang lebih dua kali lipat dibanding gravitasi Bumi,” ucapnya.

Akan tetapi, tidak begitu saja peneliti bisa mengirimkan astronot ke planet itu. Dari Bumi, pesawat ruang angkasa yang mampu terbang dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk tiba di sana. Sayangnya, teknologi roket yang sudah dimiliki umat manusia saat ini baru bisa mengantarkan kita ke Gliese 581d dalam waktu 300 ribu tahun.
Penemuan Baru : Planet Raksasa Tanpa Bintang Induk

Penemuan Baru : Planet Raksasa Tanpa Bintang Induk

planet tanpa bintang
Planet Raksasa Tanpa Bintang. Para ahli astronomi mengatakan bahwa mereka telah menemukan planet-palnet raksasa yang tidak memiliki bintang induk. Planet Raksasa Tanpa Bintang.

Setelah melakukan pencarian selama dua tahun, ditemukan 10 planet raksasa berukuran Jupiter di bintang terdekat, namun beberapa di antaranya mengambang bebas di galaksi Bima Sakti, alias tidak memiliki bintang induk. Demikian seperti yang dikutip dari AFP, Kamis (19/5/2011). Planet Raksasa Tanpa Bintang.

Planet Raksasa Tanpa Bintang. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal sains Nature, memberikan pandangan baru atas pengetahuan mengenai planet. Ada lebih dari 500 planet tanpa bintang yang ditemukan sejak tahun 1995, namun penemuan ini adalah kali pertama ditemukan sebuah planet tanpa bintang yang berukuran raksasa.

Teori planet menyebutkan bahwa planet terbentuk dari debu dan gas dari bintang mereka. Jurnal Nature menyebut bahwa planet-planet tanpa bintang ini mungkin adalah planet yang memiliki jarak sangat jauh dari bintang mereka, hingga tidak lagi terpengaruh oleh gravitasinya,

Penelitian yang ditulis dalam jurnal sains Nature tersebut, ditulis oleh dua tim yang menggunakan gravitasi tingkat mikro untuk menganalisis 10 juta bintang di galaksi Bima Sakti dalam kurun waktu dua tahun.

Selasa, 17 Mei 2011

Empat Lokasi Bakal Pendaratan NASA di Mars

Empat Lokasi Bakal Pendaratan NASA di Mars

Empat Lokasi Bakal Pendaratan NASA di Mars. Menjejakkan kaki ke Planet Mars adalah ambisi besar manusia dalam penjelajahan luar angkasa. Untuk membuktikan apakah ada kehidupan di sana. Juga mencari calon koloni manusia jika Bumi makin tua dan rusak.

Empat Lokasi Bakal Pendaratan NASA di Mars. Namun, belum lagi bisa mengirim manusia ke sana, lebih dari dua pertiga misi robot penjelahan (rover) ke Mars gagal. Lokasi pendaratan jadi masalah utama.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baru-baru ini menginventarisasi empat lokasi bakal pendaratan Mars potensial di Mars. Ini adalah hasil penelitian selama tiga tahun terakhir, empat lokasi ini adalah pengerucutan dari 60 calon sebelumnya. Empat Lokasi Bakal Pendaratan NASA di Mars.

Para ilmuwan akan mencoba mengirim  penjelajah baru bernama  Curiosity. Robot ini akan menggantikan Phoenix Mars -- setelah foto terakhir yang diambil dari orbit menunjukkan ia telah rusak.

Empat lokasi yang diincar jadi lokasi pendaratan adalah: Mawrth Vallis, kawah Gale, kawah Holden, dan Eberswalde. Robot penjelajah baru akan mencari tahu apakah Mars bisa menopang kehidupan mahluk-mahluk ekstraterresterial. Peningkatan teknis rover terbaru berarti lokasi pendaratan lebih kaya secara ilmiah daripada yang lain.

"Ini adalah tempat terbaik yang mungkin bisa Anda bayangkan. Dan untuk kali pertamanya, Anda bisa mendarat di dekat mereka (mahluk Mars) dan mendapatkannya,"  kata Matthew Golombek, anggota komisi pendaratan Curiosity, seperti dimuat Daily Mail, 15 Mei 2011.

Menggunakan teknologi bari bernama 'guide entry' pesawat bisa mengarahkan dirinya melalui atmosfer seperti peluru kendali, bukan terbang pasif seperti shuttlecock.

Ini adalah penggunaan pertama teknologi baru, yang berarti Curiosity membutuhkan area pendaratan yang lebih sempit daripada para pendahulunya.

Rover terbaru ini juga didesain bisa memperlambat lebih cepat dari lainnya, bisa mendarat di lokasi daratan tinggi, mencakup wilayah eksplorasi lebih luas.  Juga didesain untuk wilayah dingin yang ekstrem.

Mawrth Vallis

Kawah Gale

Kawah Holden 

Eberswalde 
 

Selasa, 26 April 2011

Proyek Manusia Dikirim ke Mars

Proyek Manusia Dikirim ke Mars

Proyek Manusia Dikirim ke Mars. "Kami mungkin akan menerbangkan manusia ke luar angkasa dalam waktu tiga bulan ke depan, kami juga akan menerbangkan manusia ke planet Mars. Saya pikir mungkin 10 sampai 20 tahun ke depan," ujar Elon Musk dari SpaceX.

Seperti yang dikutip dari Red Orbit, Senin (25/4/2011), SpaceX adalah sebuah perusahaan swasta untuk bidang luar angkasa yang telah memenangkan kontrak sebesar USD75 juta dengan NASA untuk menggantikan program pesawat luar angkasa dari badan antariksa nasional milik Amerikat Serikat (AS) tersebut.

SpaceX tahun lalu telah menyelesaikan uji coba pertama dari sebuah kapsul angkasa tak berawak, setelah sebelumnya juga berhasil menerbangkan sebuah pesawat ke orbit dan kembali ke Bumi.


"Tujuan kami adalah untuk memfasilitasi pemindahan manusia dan kargo ke planet lain," ujar Musk.

Program pesawat luar angkasa NASA saat ini tinggal menyisakan dua penerbangan lagi. Pesawat ulang-alik Endeavour akan melaksanakan misi terakhirnya pekan ini, sementara pesawat Atlantis juga akan melakukan penerbangan terakhirnya pada bulan Juni.

NASA kini mulai menggunakan jasa perusahaan swasta untuk mengisi kekosongan yang sebelumnya banyak didominasi oleh pihak pemerintah, dengan membuat pesawat luar angkasa generasi baru.

"Saat di mana manusia mampu melakukan perjalanan antar bintang merupakan masa depan yang menarik, dan kami berusaha untuk mewujudkannya," tambah Musk.

Awal bulan ini SpaceX memperlihatkan roket Falcon Heavy, yang mana akan melakukan penerbangan perdananya pada akhir tahun 2012. Roket tersebut dirancang untuk mengangkat satelit dan pesawat luar angkasa ke orbit.

SpaceX adalah satu dari dua perusahaan yang dikontrak oleh NASA untuk memindahkan kargo ke International Space Station, begitu pesawat ulang-alik milik mereka sudah pensiun.

Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars. Proyek Manusia Dikirim ke Mars.

Minggu, 24 April 2011

Ada Danau Es Di Mars

Ada Danau Es Di Mars

Badan Antariksa AS, NASA, baru-baru ini menemukan sebuah danau es yang mengering di bawah tanah planet Mars. Danau es tersebut mengandung karbon dioksida lebih besar daripada yang diperkirakan ilmuwan sebelumnya.

Material karbon dioksida yang tersisa itu diduga oleh ilmuwan berasal dari bekas lapisan atmosfer Mars di masa lampau saat planet Merah itu memiliki kondisi yang kondusif untuk kehidupan.

"Ini benar-benar harta karun," kata Jeffrey Plaut, seorang ilmuwan yang bekerja di NASA Jet Propulsion Laboratory, dalam laporannya yang muncul di jurnal Science, seperti dikutip Pravda.ru, Sabtu 23 April 2011.

"Kami menemukan sesuatu di bawah tanah yang tidak pernah disadari oleh siapapun sebelumnya," tandas Plaut.


Temuan ini ditangkap pertama kali oleh radar observasi milik NASA, Mars Reconnaissance Orbiter, yang melayang di atas permukaan Mars. Radar antariksa ini merupakan radar yang diciptakan khusus untuk mencari tahu petunjuk tanda-tanda kehidupan di Mars.

Danau es itu berukuran 3.000 kilometer kubik, atau setara volume Danau Superior. Ia menampung karbon dioksida sangat besar, hingga dua kali massa atmosfer Mars. Jika dibandingkan dengan Bumi, atmosfer Mars memiliki tekanan permukaan kurang dari 1 persen. Dan, sekitar 95 persen udara di Mars adalah karbon dioksida, dibandingkan Bumi hanya memiliki 0,04 persen CO2.

"Kami sudah tahu bahwa ada karbon dioksida di atas sisa es kecil di permukaan Mars. Tapi, yang satu ini volumenya 30 kali lipat lebih banyak ketimbang perkiraan sebelumnya," ujar Roger Philips, ilmuwan lain yang berasal dari Southwest Research Institute di Colorado dan juga menjabat sebagai wakil ketua tim untuk radar Mars Reconnaissance Orbiter.

Jumat, 22 April 2011

Mars Lebih 'Basah' dari Perkiraan Sebelumnya

Mars Lebih 'Basah' dari Perkiraan Sebelumnya

Ternyata, Planet Mars lebih 'basah dari perkiraan sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kutub selatan planet Mars memiliki kandungan es 30 kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

NASA menemukan bahwa daerah kutub selatan di Mars memiliki es yang 30 kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Penemuan ini mengungkapkan bahwa planet merah tersebut lebih basah dari perkiraan ilmuwan sebelumnya, ungkap sebuah studi. Demikian seperti yang dikutip dari AFP, Jumat (22/4/2011).

"Dengan mengambil data melalui Mars Reconnaissance Orbiter, para ilmuwan menemukan karbon dioksida purba yang terperangkap dalam es," tulis sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science.


"Hasil ini menambah bukti kalau dulu planet Mars memiliki atmosfir dengan kadar karbon dioksida dan air yang tipis," ungkap studi tersebut.

"Besar massa es tersebut mencapai 12.500 kubik km, sama dengan isi danau Superior, danau terbesar di wilayah Amerika Utara," ujar pihak NASA dalam sebuah pernyataan.

"Sebelumnya kita sudah tahu kalau kadar tipis dari karbon dioksida ada di es permukaan mars, tapi penemuan ini juga menambah informasi bahwa jumlah es yang ada di sana ternyata 30 kali lebih besar dari yang diguga sebelumnya," ujar pimpinan studi ini, Roger Phillips dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado.

Matahari

[Matahari][recentbylabel2]

Planet

[Planet][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done